Jumat, 21 September 2007

Sang Raja Mencari Lapar


Alkisah pada masa lampau ada sebuah negeri yang dipimpin oleh raja yang tamak dan lalim. Sang raja sangat menyukai makanan, itu sebabnya di kerajaannya, dipekerjakanlah ratusan koki yang harus selalu siap menyediakan makanan yang menggugah selera sang Raja. Entah mengapa, suatu hari sang Raja merasa sangat bosan akan makanan yang disediakan untuknya, padahal berbagai jenis makanan yang dihidangkan untuk sang Raja selalu berbeda dari hari ke hari. Oleh karena itu diadakanlah sebuah sayembara.

Sayembara tersebut diperuntukkan bagi seluruh rakyat di negerinya. Barang siapa yang mampu membuat makanan yang menggugah selera sang raja, dia akan diberi hadiah seribu koin emas, akan tetapi bagi siapa yang gagal, akan dipenggal kepalanya. Puluhan orang berbondong-bondong mengikuti sayembara tersebut dengan harapan membawa pulang seribu koin emas. Tapi apa yang terjadi, tak ada satu pun yang berhasil memuaskan sang Raja. Hingga suatu ketika datanglah seorang pengelana ke negeri tersebut.

Mendengar kabar tentang sayembara tersebut, sang Pengelana merasa benci kepada sang Raja sekaligus tertantang untuk mengikutinya. Penuh kepercayaan diri, sang Pengelana mendatangi raja. Dengan muka penuh kebosanan sang Raja bertanya “Apa yang kau bawa untukku?”. Sang Pengelana menjawab “Bakmi bawang spesial terlezat di dunia”. Sang Raja pun mencicipinya, sesaat terdiam... kemudian berkata “Pengawal, cepat penggal kepala si pembohong ini!”. Sang Pengelana buru-buru menyela perintah sang Raja “Ampuni saya paduka, saya tidak berbohong, memang benar ini makanan terenak di dunia. Hal yang membuat paduka tidak merasakannya karena paduka belum bertemu “sang Lapar””. “Sang lapar?” sahut sang Raja. “Dimana aku bisa menemuinya?” kata sang Raja penuh keheranan. “Dia tidak berada di negeri ini, oleh karena itu paduka harus ikut dengan saya mencari sang lapar. Tapi ada syaratnya, paduka harus sendirian tanpa ditemani kuda, pengawal maupun dayang kerajaan” jawab sang Pengelana. “Baik, aku akan ikut denganmu” kata sang Raja kembali. Kemudian berangkatlah mereka berdua menjelajah mencari sang Lapar.

Hampir seminggu perjalanan, ketika itu bekal makanan yang disiapkan kerajaan sudah habis. Raja jatuh terduduk, dan berteriak “Aku sudah tidak kuat lagi, dimana sang Lapar itu?”. “Dengan muka berseri-seri sang Pengelana menjawab, “Kita sudah menemukannya paduka” “Mohon tunggu sebentar, saya akan menyiapkan makanan terakhir sebagai rasa syukur karena kita telah menemukan sang Lapar sebelum kita kembali ke negeri paduka” sahut sang Pengelana. Sang Pengelana kemudian menghidangkan mangkuk yang berisi makanan ke hadapan sang Raja. “Amboi...sangat sedap masakan ini, apa yang kau berikan padaku?” tanya sang Raja. Dengan penuh hormat sang pengelana menjawab “Yang dimakan paduka adalah “bakmi bawang spesial terlezat di dunia””. Bukan main terkejutnya sang Raja. Sejak saat itu dia menyadari kesalahannya dan sang Pengelana yang cerdik serta beruntung itu diberi imbalan seribu koin emas.

Kawan-kawan, dari kisah tersebut kita dapat mengambil hikmah yang berguna sebagai pelajaran hidup. Acap kali kita meremehkan hal-hal yang dengan mudah kita terima. Sering terlupa oleh kita untuk mensyukurinya dan menjaganya dengan hal-hal yang baik. Makanan, uang, serta hal-hal “kecil” lain yang bagi sebagian dari kita mudah untuk mendapatkannya, kadang kurang dihargai oleh kita (khususnya saya sendiri :p). Mungkin hal itu ya, yang menyebabkan seseorang yang mengalami kegagalan berkali-kali terlebih dulu yang akan meraih sukses untuk waktu yang lama. Pernah saya menonton acara “Oprah” mengenai orang-orang yang kaya mendadak, tapi ternyata miskinnya secara mendadak pula. Lho, loh...kok topiknya jadi meluas nih? :p mohon maaf ya, bila saya salah mengartikan maksud dari cerita yang saya sampaikan. Kritik, saran dan komentar sangat terbuka dengan luas.^^

Tidak ada komentar: