Senin, 17 September 2007

Berinvestasi melalui hubungan sosial


Pada zaman dahulu di sebuah kota yang bernama Tao di Cina (sekarang Zibo, provinsi Shandong) ada seorang pengusaha perhiasan yang bernama Tiancai. Suatu hari Tiancai diundang oleh sahabatnya untuk menghadiri pesta perkawinan putrinya. Tiancai berpikir bahwa untuk datang ke acara tersebut sangat membuang-buang waktu, uang dan tenaga. Oleh karena itu dia mengutus Xiaocai putranya untuk pergi ke acara tersebut dengan titipan hadiah sekadarnya yaitu anting giok yang tidak diminati pelanggan.

Keesokan harinya, Tiancai bertemu dengan Fan li seorang pengusaha yang terkenal akan "prinsip-prinsip manajemen Bisnis Tao Zhugong” nya. Fan li bertanya mengapa Tiancai tidak datang pada waktu itu? Dengan basa basi Tiancai mengatakan dirinya sibuk. Kemudian Fan Li kembali mengundang Tiancai untuk datang pada acara pengumpulan dana bagi korban banjir di desa tetangga. Tiancai berkata bahwa datang ke acara tersebut sangat menyia-yiakan dan tidak ada keuntungan yang dapat diperoleh baginya. Mendengar ucapan rekannya itu, Fan li sangat terkejut, dan mencoba menasihati Tiancai dengan berkata bahwa “Selain karena alasan pertemanan dan kemanusiaan, datang ke tempat-tempat tersebut akan membuka kesempatan untuk memperluas kenalan yang akan memberi dampak baik bagi perkembangan bisnis. Pebisnis seharusnya menyumbang masyarakat dan bukan hanya memikirkan bagaimana mencari keuntungan.”

Kisah si Tiancai tersebut kiranya dapat dijadikan pelajaran bagi kita, bahwa pebisnis pelit akan mendatangkan gambaran yang tidak menyenangkan tentang dirinya dan akan dihindari orang. Ada nasihat bagus sekali yang pernah saya terima bunyinya seperti ini “Lakukan lah segala hal sesukamu dan sekehendakmu, tapi jangan salah kan orang lain yang juga menilai dirimu sesukanya dan sekehendaknya” semoga bermanfaat ^^

2 komentar:

Adzan W. Jatmiko mengatakan...

hmmm.........
kata2 yg di bold itu..
kyknya kenal.. >.<

mitasuri mengatakan...

hehehe...dari guru mita (gurunya para guru) ;p